Jalan Warga Disesaki Truk Raksasa: Aktivitas PT Ivomas Tunggal di Lubuk Gaung Picu Keluhan Serius

LENSAMATA.COM-Dumai,Aktivitas armada bertonase tinggi milik PT Ivomas Tunggal di jalan umum kawasan RT 017, Kelurahan Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembilan, memicu keluhan serius dari warga setempat. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama masyarakat kini nyaris didominasi truk perusahaan dari pagi hingga malam hari, Senin (20/04/2026).

Pantauan awak media di lapangan menunjukkan arus kendaraan berat berlangsung intens tanpa jeda berarti. Truk-truk tersebut mengangkut berbagai muatan industri seperti CPO, inti sawit, dan produk turunan lainnya yang keluar masuk area perusahaan.

“Kami terpaksa mengalah setiap hari. Tidak jelas ini jalan umum atau jalan perusahaan, karena terus dipenuhi truk besar,” ujar seorang warga dengan nada kesal.

Permasalahan menjadi krusial karena jalan tersebut merupakan satu-satunya akses keluar masuk warga RT 017. Kondisi ini meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi anak-anak sekolah dan pengguna jalan lainnya.

“Anak-anak kami lewat sini setiap hari. Apa harus tunggu kecelakaan dulu baru ada tindakan?” tambah warga lainnya, menyoroti potensi bahaya yang dianggap diabaikan.

Selain aspek keselamatan, warga juga menilai perusahaan kurang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. 

Sejumlah proposal kegiatan masyarakat yang diajukan disebut tidak pernah mendapat respons.

“Selalu alasan menunggu keputusan dari pusat. Kalau memang begitu, setidaknya realisasikan dana CSR untuk warga ring 1,” tegas warga.

Upaya Konfirmasi Minim Respons
Awak media mencoba mengonfirmasi hal ini ke Dinas Perhubungan Kota Dumai sekitar pukul 10.30 WIB. Namun, pejabat terkait disebut sedang menghadiri rapat. 

Staf yang ditemui memberikan nomor kontak kepala bagian, tetapi hingga berita ini diturunkan, pesan konfirmasi belum mendapatkan tanggapan.

“Kami tidak berani memberikan pernyataan lebih jauh,” ujar salah satu staf dengan nada hati-hati.

Tuntutan Solusi Konkret
Warga mendesak adanya langkah konkret dari pihak perusahaan maupun pemerintah. Beberapa tuntutan utama meliputi pengaturan jam operasional kendaraan berat, perbaikan infrastruktur jalan, serta pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan secara nyata.

Situasi ini mencerminkan konflik klasik antara aktivitas industri dan hak dasar masyarakat atas lingkungan yang aman. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas, potensi konflik sosial dan risiko keselamatan diperkirakan akan terus meningkat.




(Rohim)