Nasional

blog post
by Gundi Sintara, SH MH

 

Mendengar nama "Republik Soviet Indonesia" saja, rasanya sudah asing. Apalagi memahami substansi persoalannya.

 

Ini tidak hanya saya, yang menghirup udara segar di muka bumi ini menjelang tahun 70-an.  Pastinya juga dialami oleh hampir semua generasi dibawah saya.

 

Padahal jika ditelusuri lebih mendalam, rekam jejak perjalanan bangsa ini menjadi sangat penting dipahami oleh semua warga bangsa kita, tanpa kecuali. Dengan memahami perjalanan sejarah, kita menjadi lebih hati-hati, banyak belajar dan mengambil hikmah dari pahit getirnya pengalaman yang dialami generasi terdahulu. Agar ke depan bangsa kita tidak terperosok dalam jurang kehancuran.

 

Sejarah politik di republik ini telah mencatat bahwa di sebuah kota kabupaten yang bernama "Madiun" Jawa Timur pernah tertulis peristiwa penting yang tidak akan terlupakan sepanjang masa.

 

Di kota kecil ini pernah berdiri sebuah negara bernama "Republik Soviet Indonesia" (RSI). Negara ini dideklarasikan pada 18 September 1948 oleh Muso, salah satu gembong PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sangat terkenal di dalam maupun luar negeri.

 

RSI didirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menggantikan negara RI pimpinan Ir. Sukarno. Tindakan PKI yang berpaham ateis ini merupakan percobaan kudeta pertama pasca kemerdekaan, yang ingin mendirikan negara komunis dan menggantikan ideologi Pancasila dengan komunisme-marxisme-leninisme.

 

Kamerad Muso "didikan komunis" Uni Soviet yang pernah memberontak pemerintah kolonial Belanda tahun 1926 ini  dinobatkan menjadi presiden RSI. Tidak tanggung-tanggung untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan negara komunis Muso dengan kekuatan Laskar Pemuda PKI dan tentara FDR (Front Demokratik Rakyat), mengambil alih kekuasaan pemerintah RI di Madiun dengan kekuatan senjata. Dengan sistematis pasukan PKI  berhasil menguasai kekuatan strategis bersenjata termasuk divisi Siliwangi.

 

Hanya hitungan hari pasukan Muso berhasil mengendalikan wilayah se ex-karesidenan Madiun yang meliputi Madiun, Magetan, Ponorogo, Pacitan dan Ngawi. Cara yang dilakukan sangat keji dan sangat biadab. Selain mengendalikan kekuatan militer dan kepolisian, pejabat pemerintahan  (kades, camat, wedono dan bupati), PKI juga membantai lawan sejatinya yakni para ulama, ustadz, guru ngaji dan aktivitas ormas Islam. Para pembesar PKI sadar musuh yang akan menjadi batu sandungan tidak lain kelompok agama terutama Islam. Paham PKI yang ateis tidak mungkin bisa bersanding dengan kelompok yang mempercayai adanya Tuhan.

 

Para pejabat pemerintah sipil maupun militer yang tidak pro PKI menjadi target pembunuhan. Cara menghabisi nyawa lawan politiknya sangat kejam. Ada yang dibakar hidup-hidup, disembelih seperti hewan, dimasukkan ke sumur dan ditanam dalam keadaan masih bernyawa, dimutilasi beramai-ramai,  digergaji perut hingga tubuh terbelah dua, dll.

 

Sebelum deklarasi pembentukan RSI komandan militer (sekarang Kodim) dan polisi (sekarang kapolres) Magetan dibunuh secara keji. Bahkan para pasukan PKI dengan bangga melintangkan tubuh bupati Magetan dalam  keadaan terikat di tangga bambu yang ditaruh diatas bibir sumur. Bupati yang terbaring tubuhnya digergaji hingga putus jadi dua bagian, lalu dijatuhkan ke dalam sumur.

 

Tidak hanya itu, tidak kurang 200 tokoh masyarakat, kyai dan santri yang dikubur hidup-hidup kedalam dua sumur tua yang tersembunyi di desa Soco, Magetan. Setelah berada didalam sumur beramai-ramai para aktivis PKI menghujani batu, kerikil dan kapur.

 

Tidak kalah hebohnya di daerah pusat kekuasaan RSI di kota Madiun, tidak terhitung bukti kekejaman FDR terhadap para pejabat pemerintahan dari kades hingga bupati (patih), polisi, tentara, kyai, santri, tokoh PNI, Masyumi, aktivis pemuda hingga rakyat biasa. Di monumen Kresek tercatat 17 tokoh penting Madiun yang menjadi korban pembantaian FDR. PKI juga dengan kejam menusuk dubur banyak warga desa Pati dan Wirosari dengan bambu runcing. Salah satunya wanita yang ditusuk kemaluannya hingga tembus ke perut.  Mayat mereka ada yang ditancapkan di tengah sawah hingga kelihatan seperti mainan pengusir burung pemakan padi.

 

Kalau dicermati gerakan PKI mulai 1926, 1945 (membonceng momentum kemerdekaan RI), 1948 hingga 1965 tidak lepas dari cara-cara kekerasan, biadab dan menghalalkan segala cara. Nyawa manusia seperti tidak ada harganya terutama lawan-lawan politik seperti kotoran yang hanya pantas menjadi penghuni jamban.

 

Bisa ditebak metode ini terinspirasi dari gerakan negara komunis di dunia.  Sebagai ilustrasi 500 jt rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923), 40 jt dinunuh Stalin (1925-1953), 50 jt warga RRC dibinasakan Mao Tse Tung (1947-1976) dan 2,5 jt rakyat Kamboja dibunuh Pol Pot (1975-1979). Dan masih banyak terjadi di negara lain yang dikuasai rezim komunis.

 

Cara-cara yang dilakukan para algojo PKI menjadi bagian dari shock terapy, membuat suasana mencekam agar lawan politiknya tidak berani menentangnya. Metode ini sangat efektif, terbukti dalam waktu singkat gerakan kudeta dari Madiun cepat menjalar ke berbagai daerah di tanah air.

 

Sejarah mencatat, tindakan kejam PKI  ternyata tidak berhenti pada 1948. Justru puncaknya terjadi tahun 1965 ketika meletus G 30 S/ PKI yang berhasil membunuh 7 pahlawan revolusi yang jenazahnya dimasukkan kedalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta.

 

Sejarah panjang gerakan penghianatan PKI terhadap republik ini, sudah selayaknya tidak boleh dilupakan. Kita harus tetap semangat dan terus berjuang melawan lupa.

 

#) Penulis seorang Advokat dan

     pemerhati sejarah.

  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar