Sosial

blog post
by Gundi Sintara

 

Beberapa bulan lalu rakyat Nganjuk disuguhi berita di media mainstream maupun media online yang sangat simpatik dan menjadi viral. Ada sidak anggota DPRD kabupaten Nganjuk terkait pembagian sembako (beras) bansos (bantuan sosial) buat rakyat miskin.

 

Hasil sidak wakil rakyat ini, terbukti beras yang dibagikan kepada KPM (Keluarga Penerima Manfaat) di beberapa desa memang tidak layak/ tidak memenuhi standar. Warnanya agak kecoklatan, bau apek dan jika dikonsumsi tentu kualitasnya jauh dari beras konsumsi pada umumnya. Masih menurut berita di media, harga jual jika dioper-alihkan ke toko kelontong tidak lebih Rp 7.000/ kg.

 

Dua tiga minggu kemudian muncul berita lagi, aparat penegak hukum (APH) melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan ketidak beresan bantuan beras covid 19 yang berasal dari dana APBD kabupaten. Beberapa pejabat Dinsos diperiksa dan sempat menjadi trending topik berita di media-media lokal.

 

Belum tuntas kasus beras bansos APBD, penyidik juga berencana akan memeriksa bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) yang bersumber dari dana APBN. Dana PKH jauh lebih menarik selain jumlahnya sangat besar juga merupakan bansos yang bersifat "permanen"   karena tidak bergantung ada tidaknya pandemic covid 19. 

 

Publik sangat mengapresiasi  kesigapan APH yang cepat bertindak melakukan langkah konkret terkait kasus yang menyangkut hajat hidup rakyat miskin sekaligus menjadi sorotan publik. Karena jika benar terjadi korupsi maka bisa dinilai perbuatan yang sangat biadab. Tentu ini menjadi poin plus yang dialamatkan kepada jajaran APH tepatnya Polres Nganjuk.

 

Di saat yang sama juga tidak ketinggalan ada pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang membuat statement tidak kalah menariknya. Demi rakyat miskin di bumi Anjuk Ladang si-aktivis ini akan "mendobrak" pihak-pihak terkait, siapapun yang berani memainkan (baca : korupsi) bansos covid, PKH atau jenis bansos lainnya akan diseret ke APH.

 

Melihat dan membaca rentetan tayangan berita diatas, rakyat yang rata-rata memang sangat berharap memperoleh bantuan seakan mendapatkan siraman air di tengah gurun yang kering dan panas. Demikian halnya para aktivis dan relawan pekerja sosial yang selama ini membantu rakyat yang marginal meski tanpa pangkat, jabatan apalagi imbalan. Sebaliknya mereka malah harus keluar duit dari kocek sendiri, setidaknya ongkos operasional.

 

Para relawan yang bekerja secara senyap merasa memperoleh dukungan riil dari wakil rakyat, APH dan pegiat LSM. Dukungan ini tentu menjadi amunisi tambahan yang sangat berarti dan menjadi suntikan semangat yang sangat berguna.

 

Ada dukungan politis, yuridis maupun sosiologis. Dengan fakta verbal tersebut bisa menjadi garansi praktek distribusi bansos kepada rakyat yang terpapar pandemic covid 19 baik dari APBN, APBD dan APBDes bisa berjalan lancar dan tidak ada lagi penyalahgunaan (korupsi). Harapan bahkan impian ini wajar lantaran yang terjadi selama ini rakyat sudah tidak percaya jika tidak ada korupsi dalam setiap peluncuran bantuan dari pemerintah.

 

Namun realita membuktikan "mimpi indah" rakyat hingga hari ini masih sebatas mimpi.   Karena rakyat tidak bisa lagi menikmati kabar terkait tindak lanjut baik secara politis, lebih-lebih langkah yuridis (pro yustisia). Selama ini andalan rakyat hanya kepedulian media untuk menyampaikan informasi berdasar fakta yang benar. Tidak mungkin ratusan ribu rakyat Nganjuk akan donyong2 datang ke berbagai instansi untuk menanyakan proses penyelesaian masalah yang sudah masuk wilayah pemerintahan apalagi hukum. Publik hanya ingin kejelasan dan kepastian bagaimana tindak lanjut yang sebenarnya.

 

Gegap gempita pemberitaan yang menguasai jagat dunia maya dan seolah sangat menjanjikan, kini seperti hilang ditelan bumi Anjuk Ladang. Yang tersisa hanya kekecewaan dari sebuah penantian yang tiada akhir. Fenomena seperti ini terasa sudah terlalu lumrah dirasakan. Terjadi silih berganti dari waktu ke waktu. Kepada siapa lagi rakyat harus mengadu !!!!

 

) *Penulis seorang Advokat jebolan

    FH UB Malang.

  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar