Regional

blog post
by Gundi Sintara

 

Jujur saja, ketika polemik yang makin hangat perihal penentuan siapa figur diantara 3 kandidat sekkab yang akan dilantik mas Novi, saya termasuk warga Nganjuk yang sempat ikut ketar ketir.

 

Jangan-jangan mas Novi salah pilih. Meskipun 3 kandidat sudah cukup baik (bukan yang terbaik dari 7 pendaftar), tetapi berdasar pengalaman beberapa kloter mutasi dan promosi pejabat struktural selama ini masih banyak mengecewakan.

 

Pejabat yang ditempatkan tidak sesuai keahliannya, pangkat yang masih yunior dipaksakan menduduki jabatan tertentu, yang punya rekam jejak tidak bagus dan terakhir "pelengseran" pak Agus Subagio yang amat kontroversi, dll. dsb. Terlepas kebijakan mas Novi ini obyektif yang subyektif atau subyektif yang obyektif,  tentu akan menjadi referensi bagi kita yang berada di luar.

 

Publik di internal birokrasi maupun para politisi di dewan, pegiat NGO, para jurnalis yang sok ngrumpi rata-rata menjagokan mas Nur Sholekan. Tumplek blek, pelantikan kadis Perhubungan yang sulit senyum ini tidak bisa dibendung. Bisa dipahami, mas NS ditarik menjadi Plt menggantikan pak AS yang tiada hujan dan angin tiba-tiba "dilengser" menjadi staf ahli. Ini fenomena politik birokrasi yang luar biasa. Makanya cukup dinalar jika publik beropini mas NS termasuk pejabat "petingan" mas Novi.

 

Opini publik makin yakin ketika pansel mengumumkan 3 kandidat yang lolos seleksi yakni mas NS, abah M  Yasin dan mas Sopingi. Ibarat pertandingan sepakbola gajah, skor akhir sudah bisa ditebak.

 

Banyak pihak memelototi penentuan jabatan sekkab Nganjuk ini. Kita harus menyadari posisi sekkab sangatlah strategis. Ia berada tepat di tengah persimpangan, tempat semua orang lalu lalang. Ibarat pertunjukan orchestra, sekkab menjadi dirigen yang setiap gerakan tangan, mimik dan gestur tubuhnya diikuti seluruh pemusik dan vokalis. Jika dirigen salah gerak maka seluruh pertunjukan akan ambyar.

 

Ada ungkapan, dibalik kesuksesan karir suami tidak lepas dari peran isteri yang hebat. Sebaliknya suami bisa terjerembab dalam kubangan karena kedunguan isteri. Sekkab adalah "isteri sah" Bupati, menjadi orang yang paling dekat dengannya. no Tidak ada jabatan lain, termasuk wakil bupati, yang paling tahu situasi luar dalam "suami"-nya sebagai modal untuk bisa melayani dengan baik.

 

Sebab itu sekkab bukan sekedar birokrat yang profesional tetapi dituntut juga menjadi "politisi" yang handal. Sebagai ketua tim anggaran eksekutif, dia harus bisa berkomunikasi dengan legislatif sebagai mitra dalam pembahasan RAPBD. Demikian halnya dengan jajaran samping dan pihak eksternal (non pemerintah) yang dalam realita mempunyai peran strategis yang tidak bisa dikesampingkan.

 

Oleh sebab itu, idealnya sekkab dijabat PNS yang sudah kenyang pengalaman memimpin unit organisasi birokrasi di semua level pemerintahan. Misalkan  pernah menjadi camat, kepala dinas di beberapa OPD dan kepala Bappeda. Dengan sederet pengalaman ini sekkab benar-benar menguasai tupoksi masing-masing OPD, menjadi eksekutor sekaligus perencana kegiatan dan mampu menjalin komunikasi dengan pihak eksternal sekaligus memadukan dengan kebijakan bupati. Hal ini  yang sangat diperlukan untuk menjaga kondusifitas pemerintahan.

 

Tiga kandidat yang telah lolos seleksi harus diakui memang  belum menunjukkan sosok yang ideal. Mas Sopingi tentu masih new comer di  pimpinan OPD level kabupaten dan belum piawai berkomunikasi dengan pihak eksternal. Mas NS meski lebih senior namun masih terjadi resistensi, tentu ini bisa mengurangi rasa nyaman pimpinannya.

 

Dari fakta ini sangat rasional manakala M Yasin tampil menjadi figur alternatif. Pejabat yang selalu tampil bersahaja dan memulai karir sebagai guru agama Islam ini bisa menutupi dua pesaingnya. Rekam jejaknya telah membuktikan abah Yasin selalu bisa menyesuaikan dengan kemauan top pimpinannya, sejak bupati bu Hanung dan berganti pak Taufik. Kali ini pilihan mas Novi tidak mengecewakan.

 

*) Penulis seorang advokat dan direktur

    Lembaga Kajian Hukum dan Kebijakan

    Publik SINTARA INSTITUTE.

  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar