Sosial

blog post

Bu Tuki (64 thn) tampak tersenyum bahagia ketika melihat LensaMata.com masuk ke dalam rumahnya. Janda miskin warga dusun Bulurejo, kelurahan Warujayeng, kecamatan Tanjunganom, kabupaten Nganjuk ini mempersilahkan tamunya duduk di kursi plastik di ruang tamu yang tampak bersih dan rapi.

Pemandangan ini tentu tidak terlihat beberapa bulan lalu ketika rumah mungilnya berukuran 4m x 9m, belum dibedah atau direnovasi secara gotong royong. Semula kondisi rumah bu Tuki memang sangat memprihatinkan.

Dinding terbuat dari anyaman bambu yang sudah lapuk, banyak lubang menganga jika hujan lebat air bisa masuk ke dalam rumah. Demikian atap gentengnya tidak sedikit yang pecah dan tertata tidak rapi. Air hujan bisa mudah mengalir ke rumah. Sementara lantai masih alami dari tanah. Tiang penyangga yang terbuat dari bambu juga tampak miring 5 sampai 10 derajat.

Tidak heran jika hujan lebat di malam hari yang diikuti angin bu Tuki terpaksa mengungsi di rumah tetangga. Ibu dua anak dan dua cucu ini takut jika rumahnya roboh dan menimpa diri dan anak bungsunya yang masih tinggal serumah.

Melihat kondisi rumah bu Tuki yang sangat memprihatinkan, Icuk Suciati, tetangga dekatnya, merekam dalam bentuk video dan dikirimkan ke akun salah seorang alumnus SMPN I Warujayeng tahun 1984 Gundi Sintara untuk minta bantuan mencari solusi. Esoknya GS datang ke lokasi dengan mengajak beberapa jurnalis untuk meliput dan mempublikasikan ke media. Selain itu GS juga menggalang saweran ke rekan alumnus yang tergabung dalam grup WA dan minta bantuan ke Dinsos.

”Alhamdulillah respon dari publik luar biasa. Teman-teman alumnus juga banyak membantu seiklasnya dan dari Dinsos juga datang bawa sembako 3 kresek”, ujar GS, koordinator alumni kepada Bagus Purwanto dari LensaMata.com.

Kata GS, uang saweran dari teman-teman alumnus SMPN I Warujayeng 1984 dibelikan batu bata 4.000 biji untuk modal awal. Ternyata banyak LSM, komunitas warga dari dalam dan luar kota tergerak ikut membantu baik dana maupun tenaga. Utamanya dari KPN (Komunitas Peduli Nganjuk) dan dari LP (Lembaga Pemasyarakatan), CB club Nganjuk ikut membantu biaya, konsumsi dan mengerahkan puluhan tenaga kerja saat pembongkaran dan  pembangunan rumah bu Tuki.

Hanya membutuhkan waktu 4 hari rumah bu Tuki sudah berdiri kokoh sebaimana rumah tinggal yang layak seperti rumah tetangga yang lain tanpa membebani dana APBDesa/ kel, APBD atau APBN.

Bu Tuki sudah tidak was was lagi jika turun hujan disertai angin kencang. Sudah tidak ada genting bocor, air hujan masuk ke rumah lewat lubang dinding anyaman bambu yang lapuk dan lantai rumah yang lembab karena kucuran air hujan. Bu Tuki sudah sangat nyaman dan puas tinggal di rumah barunya bersama anak laki-lakinya yang masih lajang.

”Nggih pak saya sangat berterima kasih atas bantuan bapak sehingga rumah saya jadi baik seperti ini. Kulo matur suwun sak estu (saya benar-benar berterima kasih)” , ujar bu Tuki kepada GS di rumahnya.

  • Share This Story

Komentar

Buat Komentar